Towa Kau Lepas, Toga Pun Kau Raih

Bungoeng.. Handphone kecilku berdering dengan pesan darimu, bahwa kau mengundangku untuk menampung sebagian kecil bahagiamu karena kau baru saja lolos dari perangkap formalisasi kampus yang katanya jantoeng hatee rakyat itu, kau mengundangku untuk melihat ritual yang bagi sebagain orang sangat disakralkan hingga mengundang seluruh sanak familinya ketempat itu, walau kadang ritual itu adalah hasil dari proses yang mengangkangi nurani.

Ketika kulihat pesan meutuah itu, senang bercampur duka medesah di hati dan jantung yang sedang di geroti nikotin rokok ini. Senang karena kau telah menyelesaikan kuliahmu, duka karena kau tinggalkan aku disini, meraba towa dan tinta yang hampir habis untuk menulis gundah dan duka prajurit di medan perang. Aku tau bungoeng, kau mencapai puncak itu bukan karena kau berdamai dengan munafik nya hidup di kampus yang sangat kita cintai ini, tapi karena kau memang layak [jika tak mau kubilang koyak] untuk menikmati status barumu. Status yang sebenarnya telah menambah beban di pundak dan pikiranmu untuk terus berteriak di jalan yang kadang mereka anggap sesat, penuh penat, dan pastinya terancam disunat serdadu negara.

Bungoeng, ketika siang yang dicumbu hujan itu aku lewati tembok kampus yang tak seberapa itu, kuliat berjejer ucapan berkalung bunga di trotoar jalan seakan menghantar kalian untuk pergi jauh dari hiruk pikuk dialektika murahan dan kadang sialan. Ku coba melewati jejeran pesta itu untuk mataku bisa meraih tatapan kalian, kalian yang sedang sibuk mengabadikan ritual yang kita telah sepakat menyebutnya dengan opera murahan di istana raja. Aku bingung bungoeng, kulihat kalian pikirku menerawang jauh kapan aku bisa memberi ritual murahan itu pada empunya rumah tempat kulahir, pada empunya hak yang menyusuiku, walau aku tau itu hanyalah ritual belaka.

Bungoeng, Toga itu belum lepas dari tubuh dekilmu, seakan kau tak lagi mau melepasnya. Seakan kau ingin menghinaku, seakan kau ingin mengatakan padaku bahwa towa yang dulu bau karena sama kita muncratkan air ludah tak akan kau sentuh lagi, dan seakan ingin kau katakan bahwa towa itu sekarang aku yang punya hak bersama ribuan pengikut setan dibelakangku. Ah, bungoeng, mungkin ini cuma pikiran busuk ku saja terhadap kalian. Dan aku harap kalian tak seperti itu bungoeng.

Bungoeng, sebenarnya panjang ingin kunukilkan kata-kata ini pada kalian. Tapi tinta yang kupakai untuk kutulis ini keburu diminta pemilik nya. Kau taukan kalau tinta ku yang dulu telah lama rusak di gerus zaman, krena teknologi itu tak bisa bertahan lama seperti adam atau dinosaurus bungoeng. Jika nanti aku punya kemudahan akan aku beli tinta yang baru, khusus ingin kutulis surat cinta dan rindu pada kalian bungoeng.

Tapi, terakhir untuk kalian bungoeng, walau toga telah kau raih, pintaku towa kita jangan kau lepas. Karena kita telah berjanji untuk tetap di jalan ini, jalan kita. Selamat Jalan Bungoeng..!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tolong Kalian Beri Judul

Sebentar lagi lebaran, kata mereka yang menantikannya. Ketika kuketik sekata duakata celoteh ini, aku masih berpikir apa arti lebaran bagi manusia. Besok rencana mau kutatap wajah ibuku, karena dialah yang pantas aku aku tatap untuk pertama kali sekarang. Banyak dari kita yang sudah lebih dulu menatap wajah sang ibu, seperti barisan preman wilayah barat Atmaka dan juga barisan wilayah Peurelak Atmaka. Terakhir masuk kabar ke hape busukku, Haji Muhammad [HM] Teuku Muhammad Kurniawan sudah menginjak negeri asalnya. Ah, aku juga jadi rindu mengggapai kampung halaman walau dengan sekelumit masalah yang aku tinggalkan di kandang kita di kampus merah itu.

Sedikit kukabari, ketika paragraf pertama ini kusudahi, Badak, Aroel Jaroet dan Pane Amroe silih berganti mengomentari statusku. Aku sendiri tak tau apa maksudnya, tapi kuanggap saja bentuk reaksi dari rindu dan cinta yang mereka pendam padaku.

Kandang kita mungkin jadi sepi, dari celotehan yang kadang ada orang anggap tak berguna, tapi aku tetap menganggap itu sebagai fenomena kebergunaan. Dari forum induk di kandang itu sekarang kalian sedang membentuk sub forum di tanah kalian masing-masing. Pereulak, Nanggroe Barat, dan mungkin sedikit yang masih tinggal di Kutaradja. Badak mungkin akan jadi raja di Peureulak dan Cakeuk aku yakini sebagai Panglima Perangnya. Di Nanggroe Barat ada Jampok yang berebut tempat sebagai raja dengan Haji Muhammad [HM] Teuku Muhammad Kurniawan, mungkin ada Bang Roykee dan Petot yang sedikit menggembosi keadaan. Kutaradja? ah, kota tua ini tetap akan di huni oleh para cukong dan maniak rantam keude kupi, ada Akang, Hanfi Diyus, dan beberapa elemen kecil lainnya. Dan aku yang telah kalian pilih sebagai raja diraja yang memegang singgasana Atmaka Arga Arcala setahun depan memilih untuk berdiam diri menyepi di kaki bukit Geurutee Meurehom Daya, negeri indah warisan jejak perahu Fansuri.

Beberapa hari yang lalu, ada sedikit riak di tanah merah kita, riak yang sebenarnya tak layak dianggap riak jika ada manusia yang berani berteriak lantang. Jika saja Abdullah Muhammad Amin tak diangkut oleh serdadu cukimay [meminjam kata badak] itu mungkin tak harus Cakeuk dan Bang Andre mengeluarkan tenaga dalamnya hingga si serdadu cukimay itu terpelanting kena tunjang hingga mengeluarkan amarah nya di ujung bedil mini pemberian pemerintah yang di gaji dari uang rakyat. Walau ada sedikit yang tak terima, tapi riak itu telah redam dari dendam seredam monyong Abdullah Muhammad Amin menyantap paha ayam kemarin malam.

Sekarang, yang aku tau Badak masih membelakkan matanya di depan layar Muka Buku ini, baru saja ia memberi balasan dari komentarku terhadap sapanya dengan Pane Amroe. Cerita tentang Badak, dialah pemilik hak paten dari kata "kurang" yang pernah menjadi virus beberapa kelompok preman di Muka Buku, bahkan menjalar ke komunitas-komunitas lainnya. Itu mungkin prestasi dia yang pernah kucatat, mungkin kawan-kawan bisa membantahnya atau malah menambahkannya.

Oya, apa kabar angkatan pertama Atmaka? adakah kabar kalian bisa terhimpun di data pengurus Mapala Hukum Unsyiah? yang aku tau kabarnya selama ini cuma Akang, Diyus Hanafi, Indis Kurniawan, Fauzan dan Pane Amroe, karena intensitas tatap muka ku dengan mereka relatif tinggi. Diyus Hanafi sendiri baru kurogoh bungkus rokoknya untuk sebatang Dunhill yang berbungkus merah itu di Chek Yukee. Sedangkan Akang beberepa malam yang lalu selalu kulalui dengannya di tepi Krueng Aceh meneguk semangkuk dua mangkuk kupi, dan alhamdulillah aku tidak harus mengeluarkan rupiahku untuk membayarnya, Terimong Geunaseh untuk Akang atas kopinya. Huhu

Ah, banyak cerita lainnya yang harus kita bagi, tapi tak melalui dinding maya ini mungkin. Tentang saudara kita yang lagi jatuh hati pada anak dara kampus, tentang sapu busuk sekret yang selalu mengundang seuntai senyum betina dan mungkin cerita tentang "kurang" dan "lebih" dari kalian. Aku tunggu itu. Spesial untuk bang Gembel, tolong dong warnai tubuh kami dengan indahnya Tano Gayo.

Jika boleh aku jujur, sekarang aku lagi lapar, lapar akan kebersamaan dan kekurangan kita. Kita memang kurang tapi tak pernah berkurang walau yang menghadang adalah karang.

Salam Atmaka..

Muhajir alias Bukom
H. VII. 049. USK

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kau Tunggu Aku Demi Secuil Nikmat Indomie

Ka toeh ujeun ka toeh, hek ku kawe pieh han jitem roeh
kumeu jak woe ku takot roeh, hana kuwoe ujeun ka jitoeh
Lam geurupoh manok dek yank meusangkot, keunek raba manok hawa that that
rupajieh dirumoh hana ungkot, dek yank ka deuk pruet ka meulipat

Ka toeh ujeun ka toeh, boh cangguk karab putoeh
si ampon jab ka keunong poeh, nibak si pai nyang raya boh soeh
Ateuh tempat eh si raya ka reubah, mangat that tuboh empeun ka leupah
bek neu ganggu hai tengku meutuah, menyoe hana meuhet boh soeh bak judah

Nur Laila.. Oh Oh Nur Laila..
Nur Laila.. Oh Oh Majeunun..

Ampon Jab, kenapa kau berhijab dengan betina yang kau kagumi itu?
tak kah kau tau ia juga ingin hijab mu itu terurai..
oh Ampon, jangan kau jadikan tubuhmu laksa liur budung yang menetes tanpa dites..
karna budung bukan perahu yang ditamsil Fansury..

Tengku Gogon, hidupmu layu zahir di ramadhan penuh rahmat
atau kah kau memang terlayu amat sangat?

Hom Hai..
Han ek Kupike, Meuruwa ka di preh bak pinto rumoh
Mengharap Indomie bisa berlauk dengan Sie Kameng ini malam..

Saleum..
Pemulung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Facebook, Wujud Generasi Memble

Sejak Facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg dimaksudkan sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard, dan sejak saat itu pula acount ini telah menjadikan Mark sebagai milyarder muda di dunia. Dunia mengakui bahwa facebook telah mengalahkan acount jejaring sosial lainnya dalam popularitasnya semisal blog, friendster dan lainnya.

Ketika aku menggunakan acount facebook pada awal tahun 2008, pada masa itu facebook digunakan sebagai media untuk saling berdiskusi, berdebat dan memikirkan tentang hal-hal yang selalu mengisi fenomena sosial masyaarakat, baik politik, ekonomi, budaya dan bahkan hingga gaya hidup. Kalangan yang mengakses acount Facebook waktu itu adalah orang-orang yang hidupnya tidak bisa dipisahkan dengan komputer dan dunia maya sebagai tempat untuk menambah ilmu dan mencarai informasi. Status yang mengisi wall dan catatan yahg diposting selalu menarik untuk dikomentari dan didiskusikan, hal ini memang mengalahkan fungsi blog hingga banyak para blogger yang meninggalkan rutinitas blognya sekedar untuk bercengkrama di acount Facebook.

Sekarang, setelah acount ini semakin lebar sayapnya para penggunanya pun semakin bertambah tidak hanya dari golongan dan kelas sosial yang saya sebutkan diatas, tetapi sudah sampai pada lapisan anak sekolah dan para mahasiswapun menggunakan acount ini. Dan sesuatu yang menjadi daya tarik dan menghiasi Facebook pun luntur sedikit demi sedikit, mungkin karena semakin banyak corak ragam dan pikiran para pengguna maka perbauran corak pikir pun tak dapat dihindari. Facebook pun ajang curhat dengan status cengeng atau sesuatu yang kadang tidak perlu untuk dituliskan, semisal anak kecil yang merengek di depan orang tua.

Jika mau mengamati, fenomena ini semakin menjadi dalam beberapa bulan terakhir. Fenomena ini menggambarkan generasi memble atau yang suka enggeh-enggeh daripada generasi yang peduli yang kadang sedikit membangkang terhadap kondisi sosial yang tidak ideal. Martin Heidegger, filsuf Jerman, mengatakan bahwa sifat suatu kelompok masyarakat atau orang perorang dapat dilihat dari hal-hal yang berada di sekelilingnya, mulai dari jenis musik kesukaan, makanan kesukaan atau gaya hidup. Dan fenomena facebook tersebut mengindikasikan bahwa kebanyakan orang-orang sekarang adalah para kaum memble yang hedonis dan apatis.

Dikatakan hedonis karena menggunakan facebook cuma sebatas kesenangan dan bahkan sampai melalaikan dari hal-hal penting yang harus dilakukan. Apatis karena apa yang tampak di acount orang tersebut sangat jarang (jika tak mau dibilang tak ada) yang bersentuhan dengan kondisi real lapangan yang dialami masyarakat. Aku jadi ingat perkataan seorang teman, bahwa semua yang terjadi dengan gaya hidup anak muda sekarang ada suatu settingan yang tersistematis, semisal musik, gaya hidup, dan juga gaya berpikir. Tapi sang teman tersebut tidak menjelaskan secara rinci tentang settingan tersebut, termasuk siapa yang mensettingnya. Wallahu'alam..

Tulisan ini adalah hasil pikiranku, makanya harap sangat akan sumbangan pikir dari lainnya. Semoga kita tidak menjadi Generasi Memble..

Saleum..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Mengintip Nasionalisme di Pohon Pinang dan Karung Goni

Tak bisa kuberi apa untuk negara ini selain celotehan yang kurajut dimalam senyap ini, walau kemudian ada yang mengatakan bahwa aku manusia yang tak tau berterima kasih terhadap negara ini yang telah membesarkanku. Tak apalah, biar saudaraku berkomentar, untukku dan untuk negara ini aku harap berguna.

Sudah 64 tahun kita memproklamirkan kemerdekaan dari selembar kertas proklamasi, walau kemerdekaan yang hakiki belum jua sampai ke pangkuan. Ada keinginan untuk terus menggapainya walau kadang terhadang oleh para pengkhianat bangsa ini, koruptor, politisi yang ingi merubah pancasila dan kaum wahabi yang sepuluh tahun terakhir ini sudah mulai menyebarkan virus-virus kehancurannya ke negara ini.

Ada makna besar yang terkandung dalam setiap peringatan hari kemerdekaan, hari dimana kita memperingati Soekarnoe dan Hatta membacakan manifesto negara ini, negara yang kaya raya akan hasil bumi dan kreasi nenek moyangnya. Makna bahwa kita sedang memegang estafet yang dititipkan Soekarnoe, Hatta, Jenderal Soedirman, dan yang lainya untuk mencapai kemerdekaan yang hakiki. Seberapa mampu kita melaksanakan adalah masalahnya.

Jika kita lihat sekilas, tak ada sudut negeri yang tak meriah memperingatinya dan meneriakkan kata-kata merdeka. mulai dari umbul-umbul sampai bendera yang di cetak sebesar mungkin, mulai dari panjat pinang berminyak sampai loncat goni. Tapi mari kita susupi lebih dalam kegiatan tersebut dan kelakuan kita sehari-hari dalam memegang estafet perjuangan yang dititipkan ini, maka akan terlihat dan zahir kontradiksinya.

Sebenarnya kita sedang menipu diri dalam kemeriahan tujuh belasan, kita lebih bangga dengan segala macam produk luar negeri dari pada mencoba membantu ekonomi negara ini dengan menggunakan produk dalam negeri, rupanya logika pasar lebih kuat dari rasa nasionalisme. Pemimpin kita pun lebih senang berobat ke Malaysia daripada menggunakan peralatan dan rumah sakit daerah sendiri yang lebih mumpuni, jika alasanya soal kualitas kenapa tidak membangun institusi kesehatan yang lebih berkualitas di tengah uang yang sangat melimpah ini. Anak-anak para pejabat dan orang yang berkelas lebih bangga dan senang jika bisa liburan dan menghabiskan uang di luar negeri dibandingkan dengan berlibur dan menikmati keindahan alam negara sendiri. Anak-anak muda kita lebih bangga dan senang dengan budaya-budaya hedonis luar daripada berkreasi dengan budaya yang telah diwariskan nenek moyang yang kaya makna dan pesan-pesan hidup.

Ini sekelumit kisah dan fakta yang harus kita sadari dan kita benahi, karena rasa cinta tanah air tidak penting diungkapkan dengan seremonial dan segala macam ritual-ritual yang tak memberi makna. Jika kehidupan sehari-hari tak bisa kita ekspresikan rasa cinta tanah air, maka semua seremonial tujuh belasan tak lebih dari piasan palsu dan candu.

Jika panjat pinang dan loncat goni bisa memeriahkan seremonial tujuh belasan, tanyakan pada hati kita yang melakukannya apakah kita mampu dan mau secara sungguh-sungguh untuk tetap mencintai negara yang sedang morat-marit ini dalam kehidupan sehari-hari.

Aku harap nasionalisme bukan hanya sebatas kata pengisi status Facebook dan bukan hanya sebatas seremonial belaka, demi kemerdekaan yang hakiki yang selalu kita harapkan.

Saleum..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS